oleh

Nelayan Pantai Jakat Keluhkan Kapal Trawl

Abu Bakar, Nelayan Pantai Jakat

kupasbengkulu.com – Profesi seorang nelayan sangat bergantung pada ketersediaan ikan di perairan. Musim paceklik membuat ekonomi nelayan menjadi terhimpit. Pasalnya, paceklik ini adalah salah satu efek dari kapal trawl atau kapal yang menggunakan alat tangkap berupa pukat harimau.

“Sudah 5 bulan ini kami mengalami masa paceklik. Seharusnya menjelang puasa begini kami sudah mendapati musim ikan,” ujar Abu Bakar, salah satu nelayan pantai Jakat Kota Bengkulu.

Lanjut Abu, kehadiran kapal trol itu sangat merugikan nelayan kecil. Karena trol atau pukat harimau yang digunakan itu sifatnya mengeruk semua jenis ikan, termasuk anak ikan yang masih kecil-kecil pun ikut terkeruk.

Punahnya anak-anak ikan tentu mengancam kelangsungan populasi ikan-ikan itu sendiri. Akibatnya ikan-ikan semakin langka dan nasib nelayan kecil di pesisir pantai kian terhimpit.

“Kami berharap Dinas kelautan dan Perikanan bisa lebih memerhatikan nasib nelayan di sini. Kami tidak menuntut untuk mendapat bantuan peralatan berupa alat tangkap atau semacamnya, karena untuk apa juga kami dapat bantuan alat tangkap itu kalau ikannya habis dikeruk sama rombongan kapal trawl itu,” tambahnya.

Menurutnya, yang paling penting adalah bagaimana pemerintah khususnya Dinas Kelautan dan perikanan mempertimbangkan perizinan penggunaan alat tangkap berupa trawl atau pukat harimau. Jika undang-undang yang mengatur larangan penggunaan trawl itu sudah ada, seharusnya undang-undang itu ditegakkan.

“Kalau kapal trawl itu belum diberantas, nasib kami pastinya semakin terancam,” tandasnya.

Hal senada diungkapkan oleh Jimi, juga seorang nelayan pantai Jakat. “Musim paceklik ini sudah lama. Kami tidak lagi menemukan lagi namanya musim ikan. Keberadaan kapal trawl itu meresahkan kami sebagai nelayan kecil. Semenjak mereka beroperasi, ikan di laut serasa bertambah langka saja. Mendapatkan ikan sebanyak satu kilogram saja susahnya bukan main. Bisa habis waktu setengah hari,” ujarnya.

Lanjutnya, untuk melaut itu menghabiskan modal yang tidak sedikit. Pendapatan dari melaut seringkali lebih kecil dari pendapatan yang diperoleh. Itu membuat mereka harus berhutang dulu pada induk semang atau toke ikan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.(cr2)

Rekomendasi