Pandai besi yang kini keberadaanya kian jauh di pinggiran kota, ditengah era industri modern.

Pandai besi yang kini keberadaanya kian jauh dipinggiran kota, ditengah era industri modern merambah.

Kupasbengkulu.com, Bengkulu-Pandai besi  antara ada dan tiada, tapi rawan punah  dengan kemajuan tehnologi dan industri saat ini. Talenta membentuk besi menjadi  pisau, golok dan lainnya, biasanya di dapat dari ajaran warisan orang tuanya.

Ditahun 80-an, masih banyak  pengrajinj atau pandai besi di Kota Nengkulu.  Kini para pandai besi dapat dihitung jari, itupun keberadaannya disudut kota , baqhkan diluat kota, terdesak  akibat padatnya pemukiman warga, sehingga  para pengrajin tidak leluasa berkarya, kuatir akan mengganggu lingkugan sekitar.

Aan (26) contohnya, kini  dirinya harus meneruskan usaha orang tuanya, minggir di Jalan WR Supratman, Kelurahan  Bentiring kota Bengkulu. Padahal dulunya, bersama orang tuannya  membuka usaha panda besi  di daerah Pagar Dewa. Bersama  dengan saudaranya yang lain, usaha pandai besi  terus dilakoninya,  dengan meraup rupiah yang tidak sedikit dalam perbulannya.

Pesanan

Diceritakan Aan, selain menerima pesanan pembuatan pisau atau parang perorang, dirinya bersama tiga saudaranya juga acap kali menerima order perkodi, dari berbagai kabupaten. “Dalam membentuk parang misalnya, dalam satu hari kami dapat membuat 20 parang pesanan orang”, jelas pria yang sempat pupus melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi ini.

Dari 20 parang yang di buat, maka dirinya mengoper barang itu ke pihak pengecer di berbagai kabupaten, dengan harga Rp550 ribu, tentunya sesuai dengan kualitas besi yang dipesan.

Besaran harga yang diperoleh tersebut jelas Aan, tidak semuanya merupakan untuk. Tentunya itu dipotong harga  besi, arang dan dibagi hasil bersama tiga temannya. “Belum lagi tempat menyewa”, jelas Aan sembari menunjuk tempat ukuran 3×4 meter, yang hanya beratap tanpa dinding.  Di pinggir Jalan terpampang coretan merk mengunakan cat, “ Pandai Besi Meranjat “.

Dengan kerja sama yang baik, meskipun acapkali percikan bara api, kucuran keringat mengenai tanggan dan  tubuhnya, semangat kerja meraup rupiah dilakukan mereka. Tidak hanya berupa parang (Golok), pisau saja yang dapat dibuat para anak muda ini, bila ada pesanan kerispun, mereka sanggup mengerjakannya. (bb)