rere

Puting Beliung luluhlantakkan rumah warga tiga desa di Kecamatan Curup Utara.

Kupasbengkulu.com, Rejang Lebong – Pasca bencana angin puting beliung melanda tiga desa di kecamatan Curup Utara, kini para korban yang rumahnya rusak berat, memilih istirahat di tenda darurat.
Dari pantauan dilapangan ditemukan ada beberapa korban lainnya memilih tinggal dirumah keluarga yang terdekat, Jumat (22/1).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rejang Lebong, Masdar Helmi yang ditemui mengatakan, dari Palang Merah Indonesia (PMI) setempat, telah didirikan sekitar sembilan tenda darurat untuk para korban.

“Tenda baru mulai didirikan pada malam Kamis (21/1/2016), dan kita juga fokus untuk memasangkan terpal, menggantikan atap rumah warga yang hilang sementara,” jelas Masdar.
Data terakhir menyebutkan, total kerugian mencapai angka Rp 1 Miliar. Sebanyak 56 rumah dari tiga desa antara lain, Desa Bangun Jaya, Air Bening dan Babakan Baru menderita kerusakan akibat terjangan angin puting beliung.

Data terhimpun menyebutkan, sebanyak 29 unit rumah menderita kerusakan ringan, sedangkan 27 diantaranya rusak berat. Masdar menjelaskan, untuk bantuan logistik, disalurkan melalui posko yang didirikan. Selain Posko dari BPBD setempat, juga berdiri posko dari TNI, Polri dan PMI.

“Untuk sementara ini, bantuan yang kita berikan baru terpal sekitar 60 lembar, selimut, dapur umum, dan lain-lain,” jelasnya.

Selain rumah katanya, kerusakan juga terjadi pada beberapa fasilitas umum seperti Masjid, perumahan sekolah, pasar dan Balai Desa setempat. Desa Air Bening merupakan wilayah dengan total kerusakan paling parah dibanding desa lainnya.

Hingga saat ini kata Masdar, tidak ada korban jiwa akibat kejadian ini. Salah satu warga setempat yang rumahnya rusak berat, Nedi (34) mengakui, angin datang begitu cepat. Awalnya angin puting beliung tersebut berwarna putih dan ukuran tidak begitu besar, berjalan dari arah Desa Bangun Jaya, tepatnya dari sekitar perumahan SD setempat.

Angin melewati perkebunan warga dan dua rumah warga di wilayah tersebut, dengan cepat meluluhlantakkan sekitar. Sementara itu, angin semakin membesar dan mulai berwarna hitam, hingga akhirnya sampai ke Desa Air Bening.

Saat itulah, angin menerjang rumah Nedi. “Atap beserta kerangka kayunya terangkat sekaligus oleh angin tersebut,” paparnya. (vai)