Penja Tergantung di Jari Jari Tabut Bengkulu. Tampak Ir Syiafril Syahbudin berbaju hitam.

Penja tergantung di Jari Jari Tabut Bengkulu. Tampak Ir Syiafril Syahbudin, tengah bergamis hitam.

Bengkulu, Kupasbengkulu.com:- Masyarakat Provinsi Bengkulu banyak tidak tahu, kalau Penja Tabut (Tabot) Bengkulu itu awalnya dari emas, bukan dari tembaga, serupa yang dilihat saat tanggal 1 hingga 10 muharram tiba.

Dalam literatur dikatakan, Penja tabut Bengkulu adalah benda yang terbuat dari kuningan, perak atau tembaga yang berbentuk telapak tangan manusia, lengkap dengan jari-jarinya. Penja yang dianggap sebagai benda keramat, mengandung unsur magis, harus dicuci dengan air limau setiap tahunnya di bulan Muharram .

Ternyata Penja itu memang aslinya terbuat emas. Rumor soal penja dari emas ini sebenarnya sempat menjadi pertanyaan berbagai pihak, dan baru kini terkuak, setelah Syiafril Syahbudi, tokoh Tabut bengkulu angkat bicara.

“Memang awalnya Penja itu dari emas, namun hilang ditahun 1950,” jelas Syiafril, Minggu (21/02/2016)
Saat ini, Penja yang terbuat dari emas itu, masih ada yang emas 18 karat. Tinggal sepasang, ukurannya kecil sebesar jempol. Penja lainnya jelas Syiafril, telah raib diambil, dicuri oleh orang keturunan Belanda.

Dijaga Generasi Baru 
Syiafril membantah, jika Penja yang terbuat dari emas masih ada yang menyimpan, apalagi oleh orang-orang ‘Tabut’. Namun diakuinya, dulunya, ada Penja yang tersimpan di dalam bakul, sempat hilang, jatuh di Kuala Pasar Berkas Kota Bengkulu.

Menyinggung soal apakah seluruh Penja yang ada itu terbuat dari emas Semua? Dibantah Syiafril yang akrab dipanggil Mamu (Panggilan kehormatan untuk orang yang dituakan -red) ini. “Memang ada Penja yang terbuat dari kuningan atau perak. Khusus yang terbuat dari Perak, itu Penja Panglima di Kampung Bali, hingga kini masih ada.

Kalau zaman dahulu Penja itu sempat hilang, kini tidak akan hilang lagi, jelas Mamu. Apalagi kini generasi baru sudah banyak, termasuk para pecinta Tabut Bengkulu.

Diakui Mamu, keteledoran hingga pusaka itu hilang, karena ada yang merekomendasikan orang keturunan Belanda itu, dipercaya untuk membuat Tabut Imam. Alasanya kala itu, gaya seni nya lebih mempuni.

“Cuman itula, enyo nengok Penja kuning-kuning selebar tangan padek nian, dIpecinyo cilok. Lakendian nyo sakit, ndak mati enyo baru becerito dan meraso bedoso. Pertayoannyo, nah kemano Penja itu lenyap, pejamnyo?” ujar Mamu.(bb)