Romi Sugara

kupasbengkulu.com, Kota Bengkulu – Peserta seleksi Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) yang tidak lolos seleksi meminta untuk dilaksanakan seleksi ulang. Pasalnya mereka menduga penentuan hasil ini sarat dengan kepentingan karena tidak mempertimbangkan perangkingan yang ditetapkan oleh tim seleksi (Timsel) sebelumnya, melainkan hanya melihat hasil fit and proper test oleh Komisi 1 DPRD Provinsi Bengkulu.

“Kami melihat ada kejanggalan selama proses seleksi. Kami yang ditetapkan sebagai tiga besar berdasarkan hasil seleksi pansel, ternyata tidak ada satu pun yang lolos seleksi. Padahal fit and proper test yang dilakukan Komisi 1 juga tidak layak dijadikan acuan,” ujar Dian Mercy Andriani, Kamis (10/12/2015).

Dian mengatakan fit and proper test tertutup yang dilakukan Komisi 1 ini hanya berlangsung selama 10 menit untuk 7 orang penanya. Artinya setiap penanya hanya diberikan waktu kurang dari 2 menit untuk menggali kapasitas peserta. Kemudian, pertanyaan yang diberikan hanya seputar data diri, alamat, nama Ketua RT/ RW, Lurah, bahkan diminta menyanyikan lagu mars KPID.

“Dalam waktu 10 menit potensi apa yang bisa digali? Ini tentu tidak mewakili kapasitas seseorang. Pertanyaannya pun tidak ada sangkut pautnya dengan KPID. Kami mengira nama-nama tersebut memang sudah ‘dipersiapkan’ sebelumnya,” sambung Evsa Wulan Sari.

Diketahui sebelum dilaksanakan fit and proper test oleh Komisi 1, pansel menyelenggarakan seleksi antara lain seleksi administrasi, test tertulis, psikotes, dan wawancara. Dalam seleksi tersebut nama-nama yang lolos dalam 3 besar antara lain Dian Mercy Andriani, Evsa Wulan Sari, dan Romi Sugara.

Setelah dilakukan fit and proper test oleh Komisi 1, ditetapkan 7 nama yang lolos seleksi antara lain Diah Noorintan, Indah Budiyanti, Fonika, Novi Lusiana, Sumaryono, Desi Harumalina, dan Ratimnuh. Pihaknya meminta Komisi 1 memberikan klarifikasi dan memberikan data nilai secara terbuka, serta juga akan menyampaikan hal ini ke Komisi Informasi Publik (KIP).

“Kami merasa sangat kecewa, karena seolah hasil test yang dilakukan pansel tidak ada nilainya sama sekali. Yang menang malah yang rankingnya jauh di bawah kami. Apa mungkin keseluruhan tiga besar tidak ada yang lolos sama sekali. Kami ingin ada keterbukaan terkait penilaian ini,” tegas Romi Sugara. (val)