Anggota DPRD Bengkulu Selatan, Lilianto dan Junianto menunjukan surat  warga

Anggota DPRD Bengkulu Selatan, Lilianto dan Junianto menunjukan surat warga

kupasbengkulu.com, Bengkulu Selatan– Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bengkulu Selatan mendapat laporan bahaya pembangunan bronjong di Sungai Air Nipis. Laporan tersebut disampaikan Warga desa Palak Bengkerung Kecamatan Air Nipis Senin, (10/8/2015).

Dalam laporannya secara tertulis, yang langsung diterima oleh ketua Komisi II DPRD. Yaitu warga Desa Palak Bengkerung Kecamatan Air Nipis ini meminta agar Bupati dan DPRD untuk menghentikan pengerukan bahan material seperti batu yang diambil dari lokasi proyek.

Selain itu secara tertulis warga juga meminta agar pihak dewan dapat menegur pekerja proyek dan mengganti material yang sudah diambil dengan cara mendatangkan material dari luar, dan memberi jaminan kepada penduduk yang bermukim disekitar pinggiran sungai tidak akan terkena abrasi dari dampak pembangunan proyek pemasangan bronjong pada sungai Air Nipis yang dikerjakan pihak rekanan dari Balai Wilayah Sumatera (BWS VII) Bengkulu.

Pada Surat dengan perihal Sitem pemasangan bronjong, yang ditujukan dengan Bupati BS Reskan E Awaluddin, dan ditembuskan kepada DPRD BS itu. Warga meminta kepada bupati dan anggota dewan untuk turun dan mengecek langsung sistem pemsangan bronjong pada sungai Air Nipis kiri dan kanan, di hilir Bendungan sungai Air Nipis desa Palak Bengkerung.

Menurut Ketua Komisi II DPRD BS Juniato yang akrab disapa Uda Ijun ini, pemasangan bronjong itu dimaksudkan untuk penahan abrasi pada saat sungai banjir. Namun dengan melihat cara dan sistem kerja dari pihak rekanan yang mengerjakan proyek bronjong tersebut malah sebaliknya, katanya.

Dalam laporan warga itu lanjut Junianto, mereka (pihak kontraktor -red) mengambil material batu untuk memasang bronjong tersebut dari lokasi itu sendiri, ujarnya.

Ditambahkan anggota dewan yang lain yakni Lilianto, menurutnya yang lebih membahayakan lagi, pengambilan material tersebut dengan cara melakukan pengerukan dengan menggunakan alat berat, sehingga warga khawatir saat datang hujan deras akan terjadi banjir bandang dan dapat mengahnyutkan rumah warga akibat abrasi, terangnya.

“Seharusnya bahan materialnya itu didatangkan dari luar, bukan dari lokasi tersebut.
Kalau hal itu dibiarkan maka diperkirakan kekhawatiran warga akan terjadi. Dengan adanya laporan warga ini, segera akan kami cek kelapangan,” pungkas Lilianto.(tom)