Thomas Parr diatas tahun 1970.

Thomas Parr diatas tahun 1970.hingga kini 2016.

Salah satu cagar budaya yang ada di Kota Bengkulu adalah Thomas Parr, yang oleh masyarakat setempat disebut Tugu Bulek. Letaknya sekitar 500 meter dari titik nol Provinsi Bengkulu.

Tugu ini mengenang Residen Inggris yang terbunuh di Bengkulu, tanggal 23 Desember 1807 di usia 39 tahun. Tewasnya Thomas parr saat penyerangan sekelompok orang di kediaman dinasnya, Mount Felik”, rumah dinas gubernur atau masyarakat setempat menyebutnya Gedung Daerah Balai Semarak.

Untuk mengenang kematiannya, dibagunlah monumen peringatan Thomas parr, tak berapa jauh dari pemakamannya di Fort Malborough Kota Bengkulu.

Tugu Bulek hingga kini tetap berdiri sebagai Cagar Budaya. Meskipun di erah Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamudin, beberapa meter areal cagar budaya ini sempat digali dan menimbulkan protes berbagai kalangan masyarakat, untuk proyek yang hingga kini dua gubernur di tahun 2016 ini, proyek jalan dibawah tanah itu tak kunjung selesai, karena tidak dilanjutkan pembangunannya.

Thomas Parr saat masih Asli.

Thomas Parr saat masih Asli.

Di Bugar Tahun 1970
Thomas Parr salah satu tugu yang masih berdiri di Kota Bengkulu, kenangan Inggris pernah bercokol di Negeri Mati ini, sebutan orang Inggris saat pertama kali ke Bengkulu.

Tidak banyak orang tahu kalau Tugu Bulek ini pernah di bugar pada tahun 1970, era Gubernur Bengkulu RM Ali Amin SH. Sisi pintu tugu yang aslinya rata, di bugar menjadi menjoroh ke dalam. Termasuk beberapa ornamen

Masyarakat juga tidak tahu, dimana plat besi yang berukuran pintu besar dan bertulisan Inggris itu berada. Plat Besi bertulisan bahasa Inggris itu dulunya tertempel di dinding Tugu Bulek.

Bila pemerintah dan berbagai pihak tidak sigap terhadap peninggalan bersejarah ini, dikuatirkan akan akan senasip dengan Gedung Bola atau Gedung Tonil. sekitar Tahun 80-an, era Gubernur Razi Yahya yang di hancur ratakan, dan diganti menjadi taman bunga. Masyarakat setempat menyebutnya kantor CPM, yang letaknya berseberangan dengan Bank Indonesia.

Bila tidak dijaga, dirawat, akan senasip dengan Tugu Jam di Simpang Pasar Melintang atau tugu lainnya. “Dengan peninggalan sejarah, kita tahu jati diri anak negeri”.

Penulis: Benny Benardie/berbagai sumber