warga memperlihatkan abate diduga palsu

warga memperlihatkan abate diduga palsu

Bengkulu Selatan, kupasbengkulu.com – Afriana (50) warga Jalan Jendral Sudirman Pasar Manna, Simpang Tiga Rukis, Kabupaten BEngkulu Selatan merasa dipaksa beli obat pemeberantas nyamuk yakni Abate. Tidak hanya itu, harga satu bungkus Abate tersebut juga terlalu tinggi yaitu Rp 5 ribu dibelinya.

“Tadi ada 4 orang yang datang kerumah saya, tiga orang perempuan dan satu laki-laki. Saya kira mereka dari Dinas kesehatan Manna yang membagikan obat itu kepada warga secara gratis,” kata Apriana kepada kupasbengkulu.com, Minggu (3/5/2015)

“Keempat orang itu langsung mengeluarkan 6 bungkus obat pemberantas nyamuk itu, lanjut Apriana. Setelah saya pegang, ternyata mereka minta untuk dibayar. Satu bungkus Abate itu Rp 5 ribu, jadi enam bungkusnya saya beli Rp 30 ribu, ujarnya.
Karena terlalu banyak 6 bungkus itu, dirinya hanya mau beli dua bungkus saja, namun si penjual maksa harus di beli semua ke-enam bungkus Abate tersebut,” ucapnya.

“Tidak bisa bu, enam bungkus tersebut harus di beli semua karena itu untuk 2 bulan,” kata Apriana menirukan sales Abate itu.

Setelah mendapat cerita dari tetangganya yakni Ajis (41), dirinya meragukan keaslian Abate itu dan merasa kalau sudah di tipu oleh sales obat pemberantas nyamuk itu.

“Tadi ada tetangga saya datangi ke rumah. Dia menceritakan kalau obat itu terlalau mahal dijual oleh sales itu. Padahal obat itu menurut tetangga saya itu belum tentu keasliannya. Mendapat cerita dari tetangga itulah saya ragu dengan keaslian Abate itu dan merasa di tipu oleh 4 orang itu tadi,” beber Apriana.

Sementara itu Ajis (41) yang merupakan tetangga Apriana itu mengaku juga didatangi oleh keempat orang sales obat pemberantas nyamuk tersebut.

“Saya tadi juga ditawari Abate itu oleh mereka, kepada saya mereka mau jual 5 bungkus hanya Rp 5 ribu,” ungkap Ajis.

“Saya tetap tidak mau lanjut Ajis, karena saya pernah baca Koran kalau obat pemberantas nyamuk Abate itu tidak dijual dan gratis dari Dinas Kesehatan Bengkulu Selatan, namun mereka sepertinya tetap memaksa saya. Setelah saya katakana kalau Istri saya orang kesehatan, orang itu buru – buru pergi,” tutup Ajis. (tom)