kupasbengkulu.com, Rejang Lebong – Ada hal yag menarik terlihat di wilayah Lembak, Kabupaten Rejang Lebong. Pantauan kupasbengkulu.com, puluhan hektar lahan yang sebelumnya merupakan lahan tanaman karet, saat ini sudah berubah fungsi menjadi lahan tanaman kopi. Menurut petani, hal tersebut sudah mulai dilakukan selama setahun belakangan.
Penyebabnya, karena harga karet yang makin lama makin merosot tajam.

Kepada kupasbengkulu.com, seorang petani setempat Burhanudin (50), petani yang memiliki lahan karet di wilayah Air Apo, Binduriang, Rejang Lebong mengakui hal itu. Menurutnya, harga karet saat ini sudah tidak mampu lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Harga karet saat ini, lanjut Burhanudin, hanya Rp 3000 per kilogram (Kg).
“Total, lahan saya yang dialihfungsikan menjadi lahan kopi adalah seluas 15 hektare (Ha), 5 ha di Air Apo, sedangkan 10 ha di Padang ulak Tanding (PUT),” ungkap Burhanudin.

Untuk memenuhi kebutuhannya selama ini, kayu karet tersebut dijual ke pabrik triplek di Curup seharga Rp 400 ribu perkubik. Hal itu dilakukannya seraya menunggu kopi miliknya dapat berbuah dan menghasilkan.

Sementara itu, dikonfirmasi, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Dinkop UKM Perindag) Rejang Lebong, Suhandak memastikan dalam waktu dekat akan melakukan pemantauan disejumlah gudang tengkulak karet. Hasil pengamatannya, karet dari wilayah Rejang Lebong dijual ke tengkulak karet yang ada di Kota Bengkulu dan Kota Lubuklinggau.

“Kita akan pantau, kemudian kita analisa penyebab anjloknya harga karet, baru kita bisa cari solusi yang terbaik,” pungkasnya. (vai)