illustrasi foto: tribunjogja

illustrasi foto: tribunjogja

Bengkulu, kupasbengkulu.com – Seorang pemilik akun facebook Vivin Susantie, warga Kabupaten Kaur, Bengkulu, menumpahkan kekecewaannya saat mengobati anaknya menggunakan BPJS di Puskesmas Nasal, namun ditinggal begitu saja oleh dokter untuk cuci mobil.

Dalam akunnya Vivin Susantie menceritakan hari Rabu 4/11/15 kemarin, saya, anak saya dan ayahny pergi ke puskesmas Nasal. Tadinya kami mo bawa rean periksa ke bidan dekat rumah, tapi ku bilang, kenapa kita tidak ke puskesmas saja, kita punya kartu BPJS (sejak pindah dr jamsostek lgsg buka BPJS mandiri) tapi tidak pernah di pake, disana pasti ada dokter bisa konsultasi.

Pergilah kami ke Puskesmas dg jarak 10km dr rumah sekitar jam 10 pagi.

Sesampai disana karena ini perdana berobat keluarga, saat pendaftaran di suruh fotocopi ktp dan kartu bpjs. Pergilah ayah rean cari fotocopy, sekitar 3km dr puskesmas. Kami menunggu di puskesmas.
Sesampai ayah rean dg membawa fotocopy ktp dan kartu bpjs, dan setelah selesai urusan admistrasi. Kami duduk menunggu kembali (padahal posisi tidak ngantri, tidak ada pasien selain kami, dan banyak perawat, bidan, PNS maupun honorer yg sedang duduk santai di kursi).

Ada salah satu honorer puskesmas (kami kenal) membawa berkas rean krn intruksi dr pihak adm dan bbrp staf disana, mereka bingung mo diperiksa siapa (terlihat kebingungannya dan sedikit heboh), ya jelas terlihat kami duduk menunggu di dekat situ. “Panggil dokter dulu suruh periksa” ada salah satu staf yang beri intruksi.

Pergilah staf honorer yg membawa berkas Rean tadi keluar ruangan, dan memanggil dokter, tapi dia kembali dg muka bingung dan berkata “Dokter tidak mau periksa anak, katanya dia dokter umum bukan dokter anak”
Dan mulai heboh kembali saling nunjuk siapa yg mau periksa Rean.

Tidak lama itu kami di panggil ke sebuah Ruangan tanpa kursi, hanya ada meja dan kasur. Ada 3 staf puskesmas yg periksa rean, ada yg bawa buku besar, nulis data, ada yg bawa kertas kecil nulis resep, dan yg membawa berkas rean tadi.

Setauku diantara mereka ini mgkn yg PNS cm 1 orang yg membawa buku besar td.
Karena tidak ada kursi ku dudukilah Rean di atas meja. Ayah rean masuk, tanya kenapa periksa diatas meja, kubilang biar bisa dilihat penyakitnya (saat itu rean tidak disuruh baring ke kasur, hanya inisiatif kusaja, masa ngelantai).

Ku buka baju rean, kulihat kukit dibawah ketiak sebelah kirinya ada koreng, dan bentol sperti disulut api rokok, yg mulai menyebar. Mulailah berdiskusi ke 3 staf puskesmas td sambil menebak penyakit rean, ” ini herves, tp bukan sejenisnya, ini alergi, ku jawab rean ngk alergian” mungkin krn mendengar ada diskusi didalam, muncullah staf senior (mgkn sudah PNS, sduah cukup berumur) dan lihat kulit rean, di sebutilah bbrp obat yg ku kurang begitu paham.

Lalu si staf senior tadi bertanya kenapa tidak diperiksa dokter, dijawab staf yg membawa berkas, dokter tidak mau, bukan urusan saya. Staf senior bilang Coba datangin lagi dokterny tanya obat yang tepat apa. Baru mau keluar staf pembawa berkas tadi, mobil dokter sudah keluar dr halaman rumah sakit dan melaju kencang.
Semua saling bertatap, dan terlihat jelas semua mendumel kesal.

Stelah diskusi soal penyakit rean, dan diskusi obat yg diberikan dan isi data lagi, kami disuruh keluar menunggu obat.

Aku, rean dan ayah duduk menunggu obat di kursi luar. Ada beberapa staf puskesmas. Sambil dongkol dan kesal dalam hati dan ngomel ngak jelas sendiri, ku tanyalah ke staf yang duduk diluar, “Pergi kemana dokterny?” Dijawab salah satu staf “Pergi CUCI MOBIL”…

Makin keluar emosiku, dan ngomel sendiri ngak jelas. “Dokter kok pilih pasien, dokter umum ya bisa semua, klopun tidak bisa kan bisa dirujuk, emang brp banyak dokter dipuskesmas ini, cuma ada dia yang ku tau, tidak ingat sumpah dokter apa, dan bla bla bla” ku ngomel sendiri di kursi, sambil di colek2 ayah Rean surub berenti ngoceh. Ku tau staf puskesmas itu dengar, tapi pura2 cuek tak mendengar.

Dipanggillah kami untuk mengambil obat, kutanya detail obat apa yg diberikan (karena aku jarang sekali memberikan rean obat kimia dan antibiotik).

Dijelaskan yg di berikan amoxilin kering (jelas ini antibiotik), racikan parcet dan ctm, serta salep Hydrocortisone.

Dalam hatiku kenapa rean diberi antibiotik? Kenapa rean di kasih parcet dan ctm? Toh rean tidak demam, gatalpun tidak. Klo salep mungkin benar (tapi ini tebakanku toh aku bukan dokter).

Pulanglah kami dg ekspresi tidak puas dengan pelayanan puskesmas, dan terutama tingkah dokter yang ada di puskesmas Nasal ini. Yang lebih mementingkan CUCI MOBIL dibanding melihat pasien.
Sepanjang perjalanan ayah rean yg mulai ngomel kesal, tadiny cluma diam aja, jangan lagi kita berobat di puskesmas. Pindah cari dokter lain, urus ke BPJS.

Memang anakku tidak parah, anfal, ataupun kritis, tapi ya coba dilihat dulu pasiennya. Ada etika dokter yang harus di jalankan. Toh tidak ada pasien lain selain kami yang datang, mungkin karena kapok berobat di puskesmas dengan pelayanan yang tidak menyenangkan.

Mending berobat ke bidan yg bisa ngasih resep dan obat (disini, meski bayar lebih dan walo tidak lagi hamil yp bosa berobat ke bidan).

Masa kami harus berobat ke Rumah sakit umum dg jarak hampir 100km dr rumah hanya penyakit kulit, atau datang sore ke praktek dokter di ibukota kabupaten dg jarak 40km. Ada jg praktek dokter disini tapi dokterny kadang ada dan bayaklah tidak ada.

‪#‎curhatan‬ seorang ibu tengah malam, yg selalu terjaga mendengar anakny rewel, nangis, mungkin pedih dan bentolny mulai menyebar.. dan ku yakin obat yg diberikan itu kurang tepat (setelah diskusi dg teman apoteker, dokter dan yg pernah alami sakit serupa)

MOHON kiranya IDI Kab. KAUR, MENDENGAR KELUH KESAHKU, dan bukan hanya aku saja yang dapat pelayanan tidak menyenangkan ini, sudah banyak yang merasakannya, itulah kenapa puskesmas besar tingkat kecamatan dg penduduk ribuan lebih banyak stafnya dibanding pasien. Karena pelayanan dokter yang tadinya mau tempat konsultasi tapi yang didapat perlakuan tidak menyenangkan.

‪#‎panggil‬ dan tegur Dokter puskesmas Nasal
Aku siap di jadi saksi kapanpun mau, dan banyak saksi yang lain juga.
Jelas ini cerita fakta, bukan pencemaran nama baik.
Nasal, 16/11/15. 02.45wib. (kps)