beras/illustrasi

beras/illustrasi

Kupasbengkulu.com – Pasca merebaknya isu beras berbahaya yang di produksi salah satu daerah di Provinsi Bengkul Senin (21/03/2016) Disperindagkop Provinsi Bengkulu melakukan sidak ke beberapa pasar Kota Bengkulu.

Sidak dilakukan guna mengambil sampel hal ini dikatakan Kepala Disperindagkop Ismed Lakoni.

Saat ini pihaknya belum bisa memastikan benar atau tidaknya isu yang merebak di Provinsi bengkulu terkait beras berbahaya tersebut

” Kita baru saja mengambil sampel di beberapa pengecer beras tidak hanya beras yang diekspose di media seperti yang beredar itu tapi kita juga mengambil sampel beras lokal lainya yang masih berada di provinsi bengkulu seperti beras Kedurang, beras Seluma dan beras Plasama sudah kita ambil sample dan nanti akan diuji oleh balai pom nah untuk hasilnya akan keluar dalam satu minggu,

Ismed Lakoni juga menambahkan bahwa dirinya belum bisa memastikan hasil uji sampel yang baru saja dilakukan oleh tim gabungan yang dibentuk oleh pihak disperindag provinsi bengkulu karena dirinya masih akan melakukan uji lab berulang kali hal ini bertujuan guna memperkuat hasil uji laboratorium terhadap beras yang mengandung bahan berbahaya seperti yang diisukan saat ini

” hasil uji sample yang kita lakukan hari ijni belum bisa dipastikan karena masih akan menunggu hasil uji lab Badan Pengawas Obat dan Makanan ( BPOM) namun fakta yang kita temukan dari hasil uji sample di beberapa pasar tadi bahwa saat ini beras asal daerah yang diisukan memiliki kandungan bahan berbahaya itu saat ini sudah langkah di pasaran,” jelas Ismed Lakoni

Ismed Lakoni menjelaskan perihal kelangkaan beras asal Seginim tersebut bukan karena adanya isu yang selama ini gencar diberitakan di media masa melainkan saat ini pihak petani daerah seginim belum dalam masa panen hal ini menjadi penyebab kelangkaan beras tersebut

” fakta yang kita temui dari hasil uji sample tadi memang belum bisa kita pastikan namun saat ini keberadaan beras tersebut sekarang sudah langkah, nah kelangkaan beras tersebut bukan dikarenakan isu yang saat ini berkembang, melainkan memang dari pihak petani sendiri memang belum dalam masa panen, dan untuk pengaruh dari isu itu tidak berpengaruh, karena tadi beberapa masyarakat masih mencari beras itu,” Ismed Lakoni.(cr5)