Rejang Lebong, kupasbengkulu.com – Kedurei, adalah salah satu ritual adat yang sakral bertujuan, untuk mewujudkan rasa syukur atas karunia Yang Maha Kuasa, memberikan tanah yang subur atau hasil panen yang baik. Biasanya, ritual ini dilakukan usai panen raya. Dahulu kala, prosesi ini ditujukan untuk Dewa Tanah dan Dewi Padi.

Seiring perjalanan waktu, Islam masuk ke tanah Rejang, persembahan pada dewa-dewi tersebut dirubah atau diarahkan pada Tuhan yang Maha Esa. Sehingga, dalam ritual Kedurei, ditambahkan dengan doa lalu acara makan-makan, seperti syukuran.

Acara kedurei biasanya dipimpin oleh “Rajo” dalam setiap desa. Nasi yang dibungkus dengan daun pisang, atau disebut punjung, ditumpukkan menyerupai gunung. Lalu diakhir acara, masyarakat akan berebutan punjung tersebut.

“Sebab, punjung itu dipercaya memberi berkah, bagi yang memakannya,” ungkap M Rauf, Ketua Badan Musyawarah Adat (BMA) Rejang Lebong.

Namun, ada satu acara kedurei yang besar, dan hanya dilakukan satu kali setahun. Acara akan dipimpin oleh ‘Rajo’ wilayah, dalam hal ini adalah bupati. Acara ini disebut Kedurei Agung.

“Punjung dalam Kedurei Agung disebut Punjung Agung, tumpukannya lebih tinggi, serta dalam doa syukuran aan diikuti oleh pejabat-pejabat teras di Rejang Lebong,” jelas M Rauf.

Acara kedurei Agung ini adalah salah satu rangkaian acara pembuka untuk HUT Kota Curup ke 135, tahun 2015. Menurut Bupati Rejang Lebong, Suherman, acara ini juga ditujukan untuk melestarikan budaya Rejang.

“Acara Kedurei Agung adalah budaya Rejang, kita wajib melestarikannya,” tutup Suherman.(**)

Penulis : Adhy Pratama Irianto, Rejang Lebong