012530800_1452732263-maxresdefault

Bengkulu, Kupasbengkulu.com-Fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) yang terjadi tanggal 9 Maret 2016 lusa, diperkirakan akan melintasi 11 wilayah di Indonesia seperti Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka Belitung.

Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur termasuk Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah serta Maluku Utara akan mengalami fenomena lama ini.

Pada saat terjadi GMT yang dimulai sejak pagi hari, langit tiba-tiba berubah gelap karena bulan akan bergeser menghalangi cahaya matahari. Ini merupakan fenomena langka yang hanya terjadi 33 tahun sekali.

Menyambut moment baik tersebut, Provinsi Bengkulu sebagai tempat pertama munculnya GMT pukul 06.19 WIB, masyarakat akan menyaksikan secara serentak, yang berpusat di Benteng Fort Marlborough Kota Bengkulu.

“Kita akan gratiskan semua masyarakat yang ikut masuk Fort Marlborough, untuk menyaksikan fenomena GMT,” jelas Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah (Plt. Sekda) Sumardi, Senin (07/03/2016).

Terhalangan Pohon

Fenomena itu nantinya, gubernur, tokoh masyarakat, FKPD beserta seluruh masyarakat juga akan melaksanakan shalat gerhana di lokasi. “Saya pastikan persiapannya sudah 99 persen,” kata Sumardi.

Kendati begitu, Kasi Pemasaran dan Informasi Wisata, Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu, Almidianto mengungkapkan, sejauh ini titik kumpul pemantauan GMT di Benteng Fort Marlborough Kota Bengkulu memang sudah dipastikan strategis. Hanya saja, uji coba yang dilakukannya kemarin, titik tersebut sedikit terhalang pohon besar yang berada di pinggir jalan Kelurahan Kebun Keling.

“Hari Minggu (06/03/2016) saya melakukan uji coba. Pagi hari sekitar pukul 06.00-07.00 WIB, di mana sama dengan waktu GMT Bengkulu, matahari terbit terlihat jelas dari sini. Tapi ada dua pohon besar yang sedikit menghalangi pandangan,” terangnya.

Pihaknya berharap pemerintah provinsi segera mengambil langkah strategis, agar kegiatan pantau GMT Bengkulu dapat berjalan sempurna.

“Kita berharap secepatnya, paling lambat besok segera diambil langkah. Setidaknya memotong sedikit bagian pohon, sehingga fenomena GMT itu bisa disaksikan dengan baik, tanpa terhalang pohon besar di pinggir jalan itu,” ujat Almidianto. (val)