IORA
Bengkulu, Kupasbengkulu.com – Duta Besar Salman Al Farisi, dalam kunjungannya ke Provinsi Bengkulu mengatakan, prioritas kerjasama dalam kerangka IORA ada di enam bidang.

Keenam bidang itu yakni keamanan dan keselamatan maritim, fasilitas perdagangan dan investasi, manajemen perikanan, manajemen risiko bencana, kerjasama akademik dan IPTEK, serta pariwisata dan pertukaran budaya.

Sejalan dengan visi pemerintahan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia, Indonesia saat ini terus meningkatkan peran aktifnya di kawasan Samudera Hindia.

Salah satunya melalui keketuaan di organisasi regional Indian Ocean Rim Assocoation (IORA) untuk periode 2015-2017, yang mana saat ini IORA beranggotakan 21 negara dan 7 mitra dialog.

“IORA memiliki arti penting bagi Indonesia. Sebagai salah satu negara terbesar di IORA, baik secara geografis dan ekonomi, beberapa wilayah Indonesia juga berbatasan dengan wilayah Samudera Hindia seperti Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, serta Papua,” ujarnya, Rabu (23/03/2016).

Menurutnya, momentum keketuaan Indonesia di IORA perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya, untuk kepentingan nasional Indonesia. Sejalan dengan visi kebijakan poros maritim, tema kekuatan Indonesia di IORA adalah “Streghtening Maritime Coorporation in a Peaceful and Stable Indian Ocean”.

Indonesia menyampaikan beberapa inisiatif strategis, seperti usulan pembuatan IORA Concord, sebagai salah satu outcome strategis 20 tahun IORA serta penyelenggaraan IORA Summit dalam rangka memperingati HUT ke-20 IORA.

Kerjasama dengan Habibie Center
Dalam rangka mensukseskan keketuaan Indonesia di IORA, Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika serta Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri RI menyelenggarakan program public awareness campaign secara nasional.

Program ini dilakukan melalui kerja sama dengan sejumlah universitas di berbagai provinsi antara lain Aceh, Bengkulu, Lampung, Yogyakarta, Bali, Makassar, Maluku, Nusa Tenggara Timur dan Papua.

“Tujuannya adalah tidak saja untuk meningkatkan pemahaman, tetapi juga menjaring berbagai pandangan dan aspirasi dari berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah, akademisi, think thank dan media terkait IORA serta arti strategis Samudera Hindia bagi Indonesia,” jelas.

Dubes juga menambahkan, Kementerian Luar Negeri RI bekerjasama dengan Habibie Centre akan menyelenggarakan the Third Indian Ocean Dialogue (IOD) di Padang pada 13-14 April 2016, dengan tema “Addressing Maritime Security Challenges in the Indian Ocean through Enhanced Regionalism”.

“Kemenlu juga akan menyelenggarakan simposium internasional bertema, Learning from the Past and Charting the Future, yang diselenggarakan di Bali pada September 2016. Acara ini mengundang narasumber dari dalam dan luar negeri serta dihadiri kalangan pemangku kepentingan, terkait guna membahas capaian dan tantangan IORA dalam usianya yang ke-20,” jelas Salman. (val)