Lokalisasi Prostitusi 'Yang Tau' saat pagi menjelang.

Lokalisasi Prostitusi ‘Yang Tau’ saat pagi menjelang.

kupasbengkulu,com, Kota Bengkulu – Pemerintah akan menutup semua tempat prostitusi atau lokalisasi di Indonesia. Ditargetkan, 2019, Indonesia bebas lokalisasi.

Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawangsa menyampaikan, target tersebut serius. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan kepala daerah dan dinas sosial setempat untuk memuluskan rencana tersebut? lalu bagaimana dengan Kota Bengkulu?

kupasbengkulu.com menemukan aktifitas prostitusi di Kelurahan Sumber Jaya RT 8 Kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu masih berlangsung.

Padahal pemerintah telah menutup lokalisasi tersebut dan menggantikan namanya dengan eks lokalisasi. Faktanya, aktifitas prostitusi tetap saja berlangsung.

(Baca juga: Penghuni Kalijodo itu menangis di hadapan kupasbengkulu.com)

Waktu sudah menunjukan pukul 23.00 WIB dini hari. Gemuruh angin menyelimuti badan, melintasi jalan bebatuan dicampur pasir. Hantakan musik ‘house remix’ pun diputar oleh setiap rumah bordir tersebut.

Ada yang menarik saat kupasbengkulu.com berhenti menghampiri salah satu rumah bordir tersebut. Terlihat seperti transaksi bisnis, tepatnya tawar menawar harga. Salah satu pengendara motor saling berbisik dengan salah satu PSK di sana.

Salah satu perempuan berkulit kuning langsat dengan tinggi sekitar 169 cm, berhidung mancung dan berambut pendek pirang ini menggodai kupasbengkulu.com.

“Abang sini dong, saya temenin. Sini ya,” sembari melambaikan tangan.

Dengan perasaan penasaran, kami pun masuk ke ruangan seluas sekitar 7 x 6 meter tersebut. Suasana cahaya kerlipan warna warni, dengan asap rokok yang tebal memedihkan mata. Lantunan musik khas semakin bendentum memacu jantung.

“Bang minum ya, d isini ada jual bir sama meong. Kalau biasanya pengunjung beli bir bang, biar enak joget gitu,” ungkap perempuan yang namanya sengaja tak dituliskan.

Terlihat puluhan pasang botol bir dalam ruangan kecil itu, tak banyak pengunjung yang menyumbangkan suara. Hanya berjoget ria dengan mata sayu merah. Waktu pun berjalan cepat, seorang perempuan pun berbisik halus ke telinga. Ia mencoba merayu dengan tawar menawar seperti berdagang. Dari bisikannya, terdengar ke telinga harga ratusan tibu sudah bisa lakukan transaksi syahwat.

Perempuan itu berumur 18 tahun memberikan tawaran khusus, terang saja dengan membayar Rp 500 ribu, ia siap untuk ditiduri selama hingga matahari terbit.

“Tenang aja bang, saya temenin sampe pagi. Tapi bayar uang posnya ya, paling cuma Rp 40 ribu. Tapi kalau mau short time, abang bayar Rp 150 ribu aja,” masih rayunya.

Dalam perjalanannya, perempuan itu berasal dari Jakarta tepatnya di Kalijodo. Yang saat ini kawasan tersebut mencuat jadi perbincangan, karena kawasan tersebut menjadi pembebasan lahan oleh Pemerintah Kota setempat. Ia sendiri menetap di lokalisasi tersebut baru beranjak selama satu bulan. Lagi lagi alasan dirinya membawa ke dunia hitam tersebut dikarenakan tuntutan ekonomi.

“Adek dari Kalijodo bang, Kalijodo itu tempat perjodohan langsung anu-anu bang hehehe. Banyak yang tidak tahu saya dari sana. Sekarang cari uang susah bang, serba mahal,” tambahnya.

Perbincangan kami pun larut semakin jauh. Ia menemani menghabiskan minuman , terlihat mata merah terkena asap rokok. (Bersambung)