oleh

Selama 10 Tahun Bocah Ini Terbaring Sakit di Rumah Kontrakan

Bocah sakit di kaur
Belian Saputra (10) bocah yang sakit sejak 10 tahun silam jauh dari perhatian pemerintah

Kaur, kupasbengkulu.com – Nampaknya Dinas Kesehatan Kabupaten Kaur perlu belajar dari kesalahan sebelumnya, karena masih ada anak-anak yang kurang mampu butuh perhatian kesehatan dari Pemerintah setempat.

Sebelumnya yang lupt dari perhatian pemerintah, yakni warga Desa Linau Rifa (2,7) yang saat ini sudah diberi bantuan oleh Gubernur Bengkulu dan segera dirujuk untuk diberi perawatan yang layak.

Dan jurnalis kami juga menemukan bocah yang malang dan lebih parah lagi dari penyakit yang ditangani sebelumnya, yakni Belian Saputra (10) putra pertama pasangan Darmansyah (35) dan Nurmayana (32) warga Desa Kepala Pasar Kecamatan Kaur Selatan.

Belian menderita penyakit Kejang yang melumpuhkan seluruh organ tubuhnya, termasuk syaraf otaknya. Saat ini berlian hanya terbaring lemah dirumah kontrakan yang berukuran 4×6 meter dengan rumah semi permanen.

Kondisi Belian sangat memprihatinkan, karena ia tidak bisa merespon apa yang kita ucapkan atau lakukan padanya, karena selain tidak bisa bicara Belian juga tidak bisa mendengar. Sehingga ia hanya terbaring lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa.

Nurma sang ibu yang hanya Ibu Rumah Tangga (IRT) mengisahkan, sepuluh tahun yang lalu saat Belian lahir dengan normal, tapi setelah umur satu bulan Belian sering mengalami kejang-kejang, karena tidak mengerti orang tuanya hanya membawa Belian kedukun didesa untuk dilihat penyakitnya, dan Belian pun sembuh dari kejang-kejang tersebut.

Belian tumbuh seperti bayi pada umumnya, hingga satu tahun kemudian yakni 2006 penyakit kejang-kejang tersebut kembali datang dan Nurma bersama suami membawa Belian berobat kembali kedukun, dengan pengobatan tradisional seperti dedaunan, akar-akaran dan minuman. Meskipun demikian Nurma selalu aktif membawa anaknya ke Posyandu.

“Setelah kita bawa kedukun, ternyata kondisi anak saya tidak membaik, oleh karena itu kita membawanya berobat ke RSUD M Yunus Bengkulu dengan jalur umum dan biaya sendiri. Disana dokter mengatakan anak saya terkena gejala otak dan menyarankan untuk terapi, namun karena kita ingin cepat sembuh dengan pelayanan yang lebih baik lagi maka kita membawa Belian ke Lampung untuk diobati dan masih dengan jalur umum,” kisah Nurma didampingi Suaminya.

Dirumah Sakit Provinsi Lampung lanjut Nurma dokter mengatakan jika anaknya mempunyai penyakit kejang dan kelainan otak. Dan Belian dianjurkan untuk diberi obat Kejang-kejang tersebut dalam bentuk Syruf defaken dengan rutin. Dirumah sakit tersebut Belian tidak dirawat inap, hanya diperiksa saja dan diberi obat.

Namun karena tidak kunjung sembuh, serta tidak memiliki biaya pengobatan Darmansyah yang berfrofesi sebagai penjual Es Dogan serta punya warung kecil-kecilan dikontarakannya ini bersama pihak keluarga memutuskan untuk memberhentikan pengobatan tersebut dan kembali berobat dengan dukun secara tradisional.

Pengobatan pun sia-sia hingga Belian berumur 10 tahun saat ini pihak keluarga kembali membawa Belian berobat ke RSUD Kaur, tepatnya Senin (02/03/2015) lalu dengan pengobatan jalur umum karena tidak memiliki kartu BPJS. Dan Belian juga diberi obat yang sama seperti sebelumnya yakni obat anti kejang syiruf defaken.

“Kita kembali ke RSUD Kaur Senin lalu, dan penyakitnya tetap sama, kita juga dianjurkan memberikan siruf defaken anti kejang. Kita beli siruf tersebut satu botolnya Rp 200 ribu. Dan jika satu botol siruf tersebut habis kita dianjurkan untuk datang lagi. Kita belum memiliki kartu BPJS dan tidak tahu mengurusnya,” tutur Nurma.

Keadaan Belian saat ini sangat kurus, untuk makan Belian selalu nurut meskipun hanya beberapa sendok saja dengan makan bubur nasi dicampur lauk lainnya.

Selama 10 tahun Nurma mengurus anaknya dengan kasih sayang. Ia juga mengatakan anaknya tidak pernah rewel, meskipun cukup menyedihkan dan susah tiap kali Belian akan buang air besar, karena selalu dirangsang supaya bisa buang air besar.

“Biasanya buang air besar satu minggu satu kali, dan itupun harus dirangsang oleh bapaknya. Dan hanya bapaknya yang telaten merangsang Belian untuk bisa buang air besar,” tutur Nurma.

Saat ditanya harapan keluarga pada Pemerintah Nurma tidak berharap banyak, dan ia mengatakan jika pemerintah bisa membantu mereka sangat senang, karena dengan keterbatasan biaya mereka tidak tahu sampai kapan pengobatan ini terus dilakukan.

Sementara suaminya hanya punya penghasilan kurang lebih Rp50 ribu dalam satu hari. Dengan penghasilan demkian Darmansyah harus membiayai dua anaknya yang satu lagi adik Belian masih duduk di bangku kelas dua SD. Sedangkan biaya kontrakan harus dibayar setiap satu tahun dengan sewa Rp 5 juta satu tahun. Ditambah lagi dengan biaya pengobatan yang sekarang mereka jalani.

“Sejak menikah kami memang sudah mengontrak rumah, dan ditempat ini kami sudah tinggal selama tujuh tahun,” tutup Nurma.

Terpisah saat dihubungi via telepon selularny Kepala Dinas Kesehatan Drs M.Thabri menuturkan jika pihaknya belum mengetahui hal tersebut dan menganjurkan pihak keluarga Darmawan untuk mengurus kartu BPJS dan melapor ke Dinas Sosial.

“Kita belum mengetahui, dan saat ini saya masih di luar daerah, kita menyarankan untuk keluarga supaya mengurus BPJS dan melapor ke Dinas Sosial,” ujarnya singkat.

Penulis : Menti Saputri, Kabupaten Kaur.

News Feed