Syamsul Maarif

kupasbengkulu.com- Pemerintah Indonesia melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan membangun sebanyak 30 bangunan shelter bencana, yang tersebar di daerah rawan bencana.

“Kita telah membuat master plan tsunami atas perintah Presiden SBY, yang dimulai dari tahun 2014 ini, dan diharapkan tahun 2016 dapat selesai. Saat ini telah dibangun 10 shelter, dan tahun 2015 dibangun lagi sebanyak 30 shelter,” ungkap Kepala BNPB Syamsul Maarif, saat kunjungannya ke Provinsi Bengkulu, Minggu (12/10/2014).

Dijelaskannya, secara keseluruhan untuk kegiatan penanggulangan bencana, baik itu edukasi, maupun pembangunan fasilitasnya, pemerintah membutuhkan anggaran senilai Rp 16 triliun.

Anggaran ini, tambah dia, bukan hanya untuk satu tahun, namun dipergunakan untuk beberapa tahun anggaran, dan sifatnya hanya stimulan.

Diharapkannya, pemerintah daerah bisa memanfaatkan gedung-gedung yang tinggi di daerah masing-masing jika terjadi bencana tsunami.

“Seperti bangunan mesjid, atau bangunan bertingkat, yang bagian atasnya diperkuat lagi agar bisa dijadikan shelter. Bangunannya pun tidak harus seperti ini seperti bangunan shelter saat ini,” ungkapnya.

Ditambahkannya, jika perlu gubernur atau bupati memberikan instruksi bahwa semua bangunan yang memiliki ketinggian dari 15 meter termasuk hotel bisa dipergunakan sebagai shelter bencana.

“Jika nanti ada perhitungan administratifnya tentu bisa kita lakukan. Tapi yang terpenting disetiap terjadi bencana tsunami utamakan mencari tempat yang lebih tinggi, dan ini tidak harus jauh lokasinya, mengingat sempitnya waktu antara gempa pertama dan tsunami,” tandasnya.(coy)