kerangka budaya, Kuntjoroningrat

kerangka budaya, Kuntjoroningrat

Bangsa ini seperti berjalan dan merayap dalam gelap, kelam, panik dan tak berpanduan. Tak ada yang bisa dipercayai bahkan diri sendiri sekalipun, kita memiliki pelita namun pelita itu tak dihidupkan, Pancasila.

Para pemimpin tak lagi dipercaya, para wakil rakyat tak lagi amanah, rakyat juga ikut dalam arus permainan itu. Masyarakat tak malu bahkan dikatakan miskin saat mereka harus berebut antrean panjang produk “Santa Clause” dari hampir setiap rezim saat harga bahan bakar minyak dinaikkan.

(Baca juga: “Untuk Maju Masyarakat Kita Sepertinya Harus Dihinakan Dahulu”)

Kemiskinan menjadi sihir mujarab bagi perumusan kebijakan politik, ekonomi bahkan pertahanan dan politik luar negeri. Kemiskinan begitu laku dijual oleh kelompok apa pun. Ada sekira 28 juta penduduk sangat miskin, 100 juta penduduk rentan miskin dan 50 juta orang barulah penduduk yang tak akan teguncang oleh perubahan global dan nasional. Demikian paparan Kepala Dinas Provinsi Bengkulu, Harnyoto, dalam diskusi kamisan yang digelar kupasbengkulu.com.

Masalah bangsa semakin kompleks saat kepentingan ini bertautan dengan urusan multinasional, dan politik. Perkara korupsi menjadi beban akut, rendahnya mutu sumberdaya manusia, akses teknologi, dan semuanya semakin melengkapi keluhan bangsa jika harus mengeluh, lalu bagaimana kesiapan Bengkulu menghadapi pertarungan lintas negara, katakanlah komunitas Asean pada 2015?

Keluhan akan semakin menggunung jika terus dikumpulkan, lingkaran diskusi kamisan sempat hening beberapa saat para peserta seolah bertarung dalam kecamuk fikiran masing-masing, hela nafas panjang terdengar dari kelompok perempuan dan mahasiswa.

Adapula yang tertunduk kepala dan nyaris menyentuh lantai, sungguh beratkah persoalan bangsa ini? sehingga baru sebagian kecil saja dibedah berdampak pada psikologis anggota diskusi kamisan.

D. Andalas, dari gerakan sipil sosial Kaba Hill, memecah keheningan, ini persoalan rendahnya produktivitas bangsa, semua peserta diskusi serentak mengangkat kepala untuk tetap fokus.

“Bagaimana sekarang kita semua mampu membangun produktivitas bangsa yang dimulai dari diri pribadi, daya kreatif masyarakat harus terus diberi stimulus tak henti, misalnya dengan memberikan akses permodalan yang tidak berpangku pada perbankan saja, dengan mengembangkan produk lokal, pemerintah tak bisa bila tak sepenuh hati,” katanya.

Ia tegaskan, ide Samisake Wali Kota Bengkulu, Helmi Hasan sesungguhnya sudah baik, hanya saja dibutuhkan penguatan di bebrapa bagian dengan tidak hanya membagikan modal tapi dibutuhkan pendampingan, memperluas usaha, bimbingan jaringan dan lainnya.

Muncul juga pendapat dari kelompok mahasiswa yang tergabung dalam PUPA, dikatakannya mengapa negara hanya berfokus pada kelompok miskin yang jumlahnya berkisar 28 juta jiwa sementara kelompok rentan miskin atau menengah jumlahnya 100 juta jiwa tak menjadi target.

“Kelompok rentan, kelompok menengah ini cukup produktif sekali jika diberi stimulus,” katanya.

Diskusi semakin menjadikan kening semakin berkerut saat Kepala Dinas Sosial, Harnyoto menjelaskan bila program tersebut telah dilakukan namun sekali lagi hasil tak signifikan. Lalu apa sesungguhnya yang terjadi dengan bangsa ini? negara dikatakan abai pada rakyat, namun faktanya ratusan triliun dana digelontorkan untuk program sejenis. Begitupula dengan bidang pendidikan.

Ah, mungkin pengawasan dan evaluasi, sekedar untuk menyederhanakan masalah, tapi lagi-lagi itu tak memuaskan pesereta diskusi.

“Bangsa ini tak memiliki karakter budaya, rasa welas asih, kasih sayang, tanggungjawab, dan siapa yang dipanutkan,” kata Harnyoto.

China ia menyontohkan, hampir di setiap sudut kota terdapat tulisan, “Jadilah miskin yang bermartabat”, mereka begitu mencintai dan menghormati pemimpin mereka yang berbasiskan budaya, budaya dan tokoh sangat mereka panuti.

“Mereka ganti baju saja tak berani jika di kamar ada foto raja atau pemimpin mereka, mereka begitu patuh pada pemimpin, ini akibat budaya mereka begitu mengakar, lalu Indonesia? tak memiliki lagi pegangan, budaya nasional Pancasila telah pupus karena rusak dengan banyak masuknya ideologi asing,” tegas dia.

Menggali kembali budaya asli bangsa yang adiluhung adalah tugas berat mengingat bangsa ini telah jauh melupakannya, budaya hanya dihargai pada seni saja itu pun hadir dalam pentas-pentas hiburan. Sementara pesan, kearifan dan tata nilai sudah pudar.

Illustrasi kembali cukup diambil dari China saat negara itu menutup diri pada akses dunia luar, bukan mereka anti asing, namun ada kerja besar dalam negeri yang mereka lakukan selama beberapa abad yakni memperkuat rasa cinta terhadap budaya mereka. Sehingga saat negara menganggap rasa kebudayaan menguat baru mereka buka “Tirai Bambu” mereka.

Sejarah memperlihatkan bagaimana kekuatan China saat ini, saat budaya telah tertanam maka identitas kebangsaan tak akan pudar, dan mereka siap mengarungi pertarungan global. Tidakkah cukup Indonesia mengambil contoh China sebagai illustrasi perubahan, kembali pada keberadaban budaya bangsa yang adiluhung,  untuk mencari manusia Indonesia? (Tim Kamisan)