kupasbengkulu.com – Berdasarkan survei McKensey, Asia Pacific Payments Trend, Global Payment Summit 2013, transaksi ritel dengan tunai di Indonesia mencapai 99,4 persen, lebih tinggi dibandingkan Thailand (97,2 persen), Malaysia (92,3 persen), dan Singapura (55,5 persen).

Hal ini seperti diungkapkan Analis Unit Akses Keuangan dan UMKM Bank Indonesia (BI) Perwakilan Bengkulu, Sarwoto, dalam Sosialisasi Pengembangan Layanan Keuangan Digital (LKD) di Provinsi Bengkulu, Jumat (25/09/2015).

“Tingginya transaksi uang mengindikasikan masih rendahnya jumlah masyarakat yang memiliki akses kepada lembaga keuangan formal. Berdasarkan survei neraca rumah tangga, hanya 48 persen rumah tangga Indonesia yang memiliki tabungan di lembaga keuangan dan non lembaga keuangan,” terang Sarwoto.

Dia mengatakan kondisi ini membuat BI terus mendorong pengembangan Finansial Inklusif (FI) guna mencapai kesejahteraan ekonomi melalui pengurangan kemiskinan, pemerataan pendapatan, dan stabilitas sistem keuangan di Indonesia dengan menciptakan sistem keuangan yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Sebagai salah satu pilar keuangan inklusif, fasilitas intermediasi/ distribusi diwujudkan melalui layanan keuangan digital.

“Diharapkan dengan transaksi keuangan digital, akses ke masyarakat perbankkan semakin dekat. Kontrol terhadap penggunaan cash (tunai) masih sulit, sedangkan biaya cetak uang semakin mahal. Sehingga ke depan diharapkan penggunaan cash berkurang dan masyarakat dapat bertransaksi dengan lebih mudah tanpa harus melakukan transaksi ke bank terlebih dahulu,” demikian Sarwoto. (val)