Kupasbengkulu.com, Bengkulu– Ditengah krisis ekonomi saat ini, ternyata bisnis jaga malam (Jamal) merupakan alternatif baru di Kota Bengkulu. Hanya saja, peluang ini masih bersifat pribadi atau kelompok, belum dikelola pemerintah daerah sebagai peluang pengentasan pengangguran.

Endut dan Maman misalnya. Tenaga bangunan ini, kini memilih pekerjaan sebagai penjaga malam di daerah Jalan Citarum III, Jalan Gedang Kota Bengkulu. Pekerjaan ini terpaksa diambilnya, mengingat sepinya pekerjaan kurun waktu setahun belakangan.

Hal yang sama juga Ujang, warga Lingkar TImur, yang beralih pekerjaan sebagai Jamal, untuk keamanaan pertokoan yang ada di Sekitar Jalan Salak, Panorama Kota Bengkulu.

Berpenghasilan rata-rata Rp 2 juta hingga Rp 3 juta perbulan ini, dinginnya malam tetap dilaluinya untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan sekolah anak mereka. “Tentunya resiko berat pak, bila dibandingkan menjadi kuli bangunan. Yang kita hadapi ini api dan penjahat”, jelas Endut yang memasuki usia 40 tahun ini.

Bagusnya, cetus maman, jaga malam ini dibiayai oleh pemerintah saja. Merkipun per keluarga sudah ditetapkan RT berapa biayanya, terkadang ada juga yang keberatan, akasan tudak ada uang. Hal yang sama juga dikatakan Ujang. Saat dirinya sakit, ada beberapa Ruko yang enggan membayar full upah Jamal, dengan alasan tidak jaga. Bila pekerjaan Jamal ini di tinjuk langsung oleh walikota,  “Aku rasa itu lebih baik”, kata Ujang (bb)