sawit

kupasbengkulu.com, seluma – Seorang warga Desa Talang Perapat, Kecamatan Seluma Barat, bernama Mahai terpaksa menghentikan sekolah anaknya Yani putri pertamanya, karena sudah tidak cukup biaya, ini disebabkan turunnya harga karet dan sawit beberapa waktu terakhir ini.

Betapa tidak, harga karet yang sebelumnya Rp 15 ribu per Kilogramnya sekarang turun menjadi Rp 5 ribu per kilogramnya. Begitupun dengan harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit yang anjlok dari harga Rp 1500 perkilogramnya menjadi Rp 500 perkilogramnya.

“Untuk biaya hidup sehari-hari saja sudah susah, bagaimana mau menyekolahkan anak, biayanya tidak cukup,” tutur Mahai di kediamannya, Senin (31/8/2015).

Sebelumnya, kata dia, Yani bersekolah di SMK 3 Seluma, namun selang beberapa waktu seiring harga karet turun drastis, membuat biaya sekolah tersendat.

“Dulu waktu harga karet normal Yani saya sekolahkan, sekarang Yani sendiri yang meminta berhenti karena dia mengetahui tidak ada biaya untuk sekolah,” keluh Mahai.

Berbeda lagi dengan Petani Kelapa Sawit belakangan ini banyak perkebunan kelapa sawit dibiarkan tanpa dipanen.

“Untuk upah pemanen saja sudah berapa, dari harga TBS Rp 300 perkilogram, sementara upah pemanen Rp 100 perkilogram, jadi hasilnya sudah habis untuk biaya panen,” kata April Warga Desa Pagar Kecamatan Ulu Talo.

Akibat krisis yang melanda tersebut juga menyebabkan rawannya aksi pencurian, warga Desa Tanjung Seru, Tanjungan dan Sengkuang Kecamatan Seluma Selatan sejak seminggu terahir diresahkan oleh aksi pencurian gabah padi di tengah sawah.

“Gabah kering saya yang ditinggal di lahan hilang dua karung, sebelumnya tetangga sawah juga kehilangan 5 Karung Gabah kering,” kata Sekretaris Desa (Sekdes) Tajung Seru Warsin.

Saat ini krisis yang melanda cukup memukul pera petani di daerah itu, kemarau panjang yang melanda petani sawah menyebabkan sejumlah lahan pertanian gagal panen serta harga jual hasil pertanian semakin menurun, sejauh ini belum ada langkah konkrit yang diambil pemerintah setempat.(cee)