Warga Gunakan Rakit Angkut Hasil Pertanian

Pekebun di Kecamatan Pino Raya Kabupaten Bengkulu Selatan mesti menantang ‘Maut’ untuk mengeluarkan hasil perkebunan mereka, dnegan mengarungi derasnya aliran sungai.

Bengkulu Selatan, kupasbengklu.com – Miris, puluhan Kepala Keluarga (KK) di Desa Karang Cahyo Kecamatan Pino Raya Kabupaten Bengkulu Selatan. Bagaimana tidak? mereka mesti menantang ‘maut’, yanga mana pekebun mesti melawan derasnya aliran sungai Air Pino, saat membawa hasil pertanian dan perkebunan ke pusat desa yang menggunakan rakit.

Kondisi tersebut dilatarbelakangi dengan tidak adanya jembatan penghubung dan akses jalan sentra produksi yang saat ini banyak yang rusak.

”Hasil panen tersebut kami keluarkan menggunakan rakit. Itu kami lakukan dua kali seminggu dari kebun. Itu pun kalau air sungai kecil, tapi kalau datang musim hujan, air sungai meluap terpaksa penen kami hentikan. Sehingga buah yang harusnya sudah di panen banyak yang rontok dan berjatuhan ke tanah,” terang Dodi (40) pekebun Tandan Buah Segar (TBS), dari Desa Karang Cahyo Kecamatan Pino Raya, kepada kupasbengkulu.com, Minggu (14/12/2014).

Menurut Dodi, hampir 80 persen areal perkebunan warga Desa Karang Cahyo berada diseberang sungai Air Pino. Areal perkebunan tersebut ditanami dengan berbagai jenis tanaman, mulai dari TBS, Kopi, Karet serta tanaman lainnya. Terkait hal tersebut, ia berharap, kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkulu Selatan, untuk membangun jembatan agar hasil perkebunan mereka bisa dipanen setiap minggu.

”Kami sangat berharap pemerintah dapat membangun jembatan menuju lokasi lahan pertanian kami ini. Kami hanya membutuhkan jembatan gantung, agar kami dapat secara rutin
memanen sawit kami,” pungkas Dodi, penuh harapan.(tom)