sepak bola

kupasbengkulu.com, Rejang Lebong – Meski sepakbola nasional tengah amburadul, bukan berarti pecinta sepak bola di Rejang Lebong juga meluntur. Beberapa lapangan utama di Rejang Lebong, seperti Lapangan Pandawa, Lapangan Dwitunggal, Lapangan Catnas dan Stadion Air Bang Curup tetap dipenuhi anak-anak dari berbagai Sekolah Sepak Bola (SSB) yang berlatih sepenuh hati.

Begitu juga ketika kupasbengkulu.com menyambangi stadion utama sepak bola di Rejang Lebong, Stadion Air Bang, beberapa waktu lalu. Segerombolan anak, dibawah asuhan seorang pelatih, berkutat dengan dengan si kulit bundar diantara rerumputan liar yang tidak begitu baik untuk standar lapangan sepak bola.

SSB yang ditemui jurnalis kupasbengkulu.com adalah SSB Adhyaksa. Nama yang langsung membuat kita terbayang akan kejaksaan. Ternyata benar, manajer dari SSB ini memang seorang jaksa, Rusdi Sastrawan. Kepada kupasbengkulu.com, ia menceritakan bahwa SSB yang diasuhnya saat ini baru memiliki 37 orang anggota yang masih berusia belia.

“14 orang diantaranya berusia sekitar 10 -12 tahun, seangkan 23 orang lagi berusia 13-16 tahun,” kata Rusdi.

Semangat anak-anak itu begitu membara. Semuanya terpancar dari tatapan, sorot mata dan teriakannya ketika setengah memaksa meminta bola. Dua orang pelatih, Riskan dan Koko, meski mungkin cukup kesulitan mengatur mereka, tetapi tetap memancarkan semangat pada peserta didik.

“Kita mau anak-anak Rejang Lebong tetap bisa bersaing dengan yang lainnya di bidang sepak bola, karena secara historikal, catatan anak-anak Rejang Lebong cukup baik,” lanjut Rusdi.

Kedepan, anak-anak ini bersiap menyongsong Danone Cup tingkat nasional, yang kemungkinan akan diseleksi dahulu di tingkat Provinsi. Persiapan menuju Danone Cup inilah yang menjadi lecutan tersendiri bagi anak-anak tersebut untuk berlatih. Meskipun, seperti yang diakui Rusdi, sarana prasarana selalu menjadi masalah klasik yang dialami.

“Kita juga dapat bantuan dari pemerintah, tetapi harus meminta terlebih dahulu, mudah-mudahan kedepannya bisa terprogram dengan baik,” kata Rusdi.

Sementara itu, anak-anak di SSB ini terus berlatih, tanpa ingin terganggu dengan kedatangan jurnalis kupasbengkulu.com. Seperti kata Rusdi, iuran untuk membayar pelatih kepada anak dikenakan sebesar Rp 20 ribu. Tapi, sampai kini belum ada satupun anak yang membayarnya.

“Tapi biarlah dulu, yang penting anak-anak rajin berlatih,” jawabnya.

Ketika ditanyakan tentang latihan tanding dengan SSB lain, Rusdi hanya tersenyum.

“Bagaimana mau sparing, kalau SSB lain anggotanya cuma sedikit,” pungkasnya. (vai)