kupasbengkulu.com, Rejang Lebong – Memasuki musim kemarau, sawah petani di Rejang Lebong sudah banyak terserang penyakit Tungro. Penyakit yang dikenal juga sebagai penyakit mentek ini membuat produksi beras oleh para petani di Rejang Lebong menjadi menurun tajam.

Biasanya, satu hektar lahan padi bisa menghasilkan 32 karung yakni sekitar 2880 kilogram (kg). Namun, saat ini, akibat serangan penyakit tersebut, produksi dalam satu hektar menjadi turun drastis yakni hanya 24 karung atau sekitar 1920 kg saja.

Pimpinan usaha penggilingan Mulya Usaha, di Kelurahan Talang Benih, Kecamatan Curup, Mahmud mengakui padi yang masuk ke penggilingannya mengalami penurunan drastis. Air di sekitaran Talang Benih, menurut Mahmud masih cukup baik dan mengaliri sawah petani. Hanya saja, pengaruh musim panas adalah munculnya penyakit tersebut.
“Produksi petani menjadi kurang dari biasanya,” jelas Mahmud.

Penurunan jumlah produksi petani tersebut juga berpengaruh pada harga beras dipasaran. Sesuai azas ekonomi, bahwa semakin sedikit barang dan permintaan tetap tinggi akan membuat harga barang tersebut menjadi naik drastis. Biasanya, harga jual beras super adalah Rp 140 ribu per kaleng (sekitar 15 kilogram), sedangkan saat ini naik menjadi Rp 145 ribu per kaleng. Beras kualitas biasa yang harga perkilonya adalah Rp 135.000 naik menjadi Rp 140.000/kaleng. Dari penggilingan, beras super dijual dengan harga Rp 160 ribu perkaleng.

“Karena produksi menurun, harga beras naik menjadi Rp 160 ribu per kalengm sedangkan beras biasa adalah Rp 150ribu per kaleng,” jelas Mahmud.

Para petani berharap dinas terkait dapat segera turun kelapangan untuk mengatasi atau mencari solusi bagi penyakit Tungro yang dapat menurunkan produksi sawah petani tersebut (vai)