kupasbengkulu.com, Rejang Lebong – Batik khas Rejang Lebong, Batik Tulis Rikung atau Ka Ga Nga dalam keadaan mati suri, terutama usai adanya kerja sama atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Daerah Rejang Lebong dengan Pengusaha Batik Mesin Tekstil Asal Kota Bandung.

Hal itu menyebabkan batik yang berada di Rejang Lebong, termasuk batik Rikung, berasal dari batik cetak yang diproduksi di luar daerah. Kebanjiran batik cetak, ruang gerak pengrajin batik tulis Rikung di Rejang Lebong, semakin terjepit sehingga banyak diantaranya bangkrut.

Dikonfirmasi, Ketua Harian Dewan Kerajinan Daerah (Dekranasda) Kabupaten Rejang Lebong, Yul Fitri membenarkan hal itu. Ia menyatakan, bahwa selama ini produksi batik Rikung adalah buatan mesin dari luar daerah, sehingga batik tulis sangat langka untuk ditemukan.

Untuk wisatawan yang ingin membeli batik asli Rikung sebagai oleh-oleh, hanya bisa mendapatkannya di Gedung Dekranasda Rejang Lebong.

“Selain itu, dari segi ekonomis, pembuatan batik Rikung atau Ka Ga Nga ini lebih murah apabila menggunakan mesin. Evolusi ini juga yang membuat harga batik Rikung dengan relatif lebih murah lantaran tidak bisa diproduksi secara massal dengan cepat,” jelas Yul Fitri.

Sementara itu, beberapa titik lokasi pengrajin batik Rikung memang sudah gulung tikar. Salah satunya, berada di Kelurahan Dwitunggal. Di lokasi tersebut, pernah menjadi lokasi produksi batik tulis Rikung terbesar di Rejang Lebong. Namun, setahun terakhir ini sudah tidak beroperasi lagi. (vai)